Jumat, 08 November 2013

Pantai Nambo Bukan Lagi Milik Kita Bersama



     Sudah lebih dari 20 tahun saya menjadi penduduk provinsi Sulawesi Tenggara dan saya belum pernah menginjakkan satu kaki pun di pantai Nambo yang hampir seluruh penduduk Sultra mengetahui keberadaan pantai tersebut bahkan mungkin sudah begitu banyak yang pernah menikmati pasir dan air laut di pantai tersebut. Ada apa denganku hingga belum pernah menyentuh pantai itu? Itu cukup sayalah yang tahu. Hehehehe…
     Bulan September kemarin adalah bulan bersejarah bagiku. Akhirnya saya dapat merasakan pasir dan air laut di pantai Nambo. Perjalanan ke sana cukup dekat, cuma menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit. Karena masih berstatus anak kostan, kami cuma bisa menyewa mobil angkot untuk ke sana yang murah meriah. Biayanya 150 ribu (pergi-pulang) dari dalam kota Kendari hingga ke pantai dan balik kembali ke kota Kendari. Kata sopir angkotnya sih, sebelum harga BBM naik ongkos nyewa angkotnya tuh cuma 80 ribu (pergi-pulang).
     Seperti halnya pantai-pantai lain atau tempat liburan lainnya, tempat tersebut akan ramai pengunjung saat hari minggu atau hari-hari libur lainnya. Nah, kami pergi saat hari senin (waktunya orang pada sibuk kerja, sekolah atau aktifitas lainnya) dan saat menginjakkan kaki di tempat wisata tersebut tuh, cuma satu kalimat yang keluar dari mulutku: “Pantai Nambo bukan lagi milik kita bersama”. Dalam hatipun saya berkata: “Tuhan tuh baik banget ya, selama ini saya gak pernah datang ke pantai ini, tapi pas saya datang….pantai ini dikosongkan khusus untuk kunikmatin sepuasnya.” Oh ya, kami ke pantai itu cuma berenam, termasuk keponakan kecilku.






     Pasir di pantai ini berwarna putih tapi gak putih bersih banget gitu. Bahkan ada area sekitar dua meter lebarnya di area pemandian yang keliatan kotor karena masih ada sisa-sisa pembakaran batang pohon bakau yang tidak dibersihkan hingga akar-akarnya.





     Karena kami datang bukan hari libur, kamar mandi dan WC pada tutup, termasuk tempat makan pun. Aigoo…untungnya ada rumah warga yang menjual snack-snack dan mie siram. Kami pun makan mie siram di situ daripada perut kami berlomba berkeroncongan satu per satu. Sekaligus jugalah kami numpang mandi dan ganti baju :D

     Overall, pantai ini cukup baguslah pengelolaannya. Gazebo ada banyak berjejer di sepanjang tepi pantai, kamar mandi/ganti dan WC juga ada, bahkan tempat makan pun tersedia. Tapi pemandangan alamnya masih kurang mantap menurutku. Gapapalah…yang penting saya sudah menikmati pantai Nambo sepuasnya. Menikmati pantai yang serasa milik pribadi. Menikmati indahnya alam yang diciptakan oleh Tuhan.


 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar