Sudah lebih dari 20 tahun saya menjadi
penduduk provinsi Sulawesi Tenggara dan saya belum pernah menginjakkan satu
kaki pun di pantai Nambo yang hampir seluruh penduduk Sultra mengetahui
keberadaan pantai tersebut bahkan mungkin sudah begitu banyak yang pernah menikmati
pasir dan air laut di pantai tersebut. Ada apa denganku hingga belum pernah
menyentuh pantai itu? Itu cukup sayalah yang tahu. Hehehehe…
Bulan September kemarin adalah bulan
bersejarah bagiku. Akhirnya saya dapat merasakan pasir dan air laut di pantai
Nambo. Perjalanan ke sana cukup dekat, cuma menghabiskan waktu sekitar 20-30
menit. Karena masih berstatus anak kostan, kami cuma bisa menyewa mobil angkot
untuk ke sana yang murah meriah. Biayanya 150 ribu (pergi-pulang) dari dalam
kota Kendari hingga ke pantai dan balik kembali ke kota Kendari. Kata sopir
angkotnya sih, sebelum harga BBM naik ongkos nyewa angkotnya tuh cuma 80 ribu
(pergi-pulang).
Seperti halnya pantai-pantai lain atau
tempat liburan lainnya, tempat tersebut akan ramai pengunjung saat hari minggu
atau hari-hari libur lainnya. Nah, kami pergi saat hari senin (waktunya orang
pada sibuk kerja, sekolah atau aktifitas lainnya) dan saat menginjakkan kaki di
tempat wisata tersebut tuh, cuma satu kalimat yang keluar dari mulutku: “Pantai
Nambo bukan lagi milik kita bersama”. Dalam hatipun saya berkata: “Tuhan tuh baik banget ya, selama ini saya
gak pernah datang ke pantai ini, tapi pas saya datang….pantai ini dikosongkan
khusus untuk kunikmatin sepuasnya.” Oh ya, kami ke pantai itu cuma berenam,
termasuk keponakan kecilku.
Pasir di pantai ini berwarna putih tapi
gak putih bersih banget gitu. Bahkan ada area sekitar dua meter lebarnya di
area pemandian yang keliatan kotor karena masih ada sisa-sisa pembakaran batang
pohon bakau yang tidak dibersihkan hingga akar-akarnya.
Karena kami datang bukan hari libur, kamar
mandi dan WC pada tutup, termasuk tempat makan pun. Aigoo…untungnya ada rumah
warga yang menjual snack-snack dan mie siram. Kami pun makan mie siram di situ
daripada perut kami berlomba berkeroncongan satu per satu. Sekaligus jugalah
kami numpang mandi dan ganti baju :D
Overall, pantai ini cukup baguslah pengelolaannya. Gazebo ada banyak
berjejer di sepanjang tepi pantai, kamar mandi/ganti dan WC juga ada, bahkan
tempat makan pun tersedia. Tapi pemandangan alamnya masih kurang mantap
menurutku. Gapapalah…yang penting saya sudah menikmati pantai Nambo sepuasnya.
Menikmati pantai yang serasa milik pribadi. Menikmati indahnya alam yang
diciptakan oleh Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar