Minggu, 10 November 2013

[Jalan2] Pulau Buton Part 1: Benteng Keraton Buton

     Perjalanan kali ini menuju sebuah pulau yang perjalanannya ditempuh semalaman dari kampung halaman ane (Bombana, Sulawesi Tenggara) menggunakan kapal kayu. Pelayaran yang menghabiskan waktu semalaman di tengah lautan (±10 jam) dengan biaya 120 ribu per orang, kalo dari kota Kendari butuh biaya sekitar 155 ribu. Yup, pulau itu adalah pulau Buton yang kotanya bernama Bau-Bau. Kalau dengar nama pulau tersebut, jadi terngiang-ngiang pelajaran waktu SD yang mengatakan bahwa pulau Buton adalah penghasil aspal.
     Sayangnya perjalanan saya kali ini bukan pergi melihat bagaimana aspal itu diproduksi (mungkin dilain waktu), tapi berkeliling menikmati keindahan yang ditawarkan pulau tersebut walaupun cuma sebagian kecil keindahan alam yang kunikmati karena waktu yang terbatas. Sangat disayangkan sebenarnya, masih banyak hal yang bisa dikunjungi dan diexplore. Kerabat saya di kota ini malah menawarkan perjalanan ke beberapa tempat indah yang lain tapi saya sudah harus segera “menyingkir” dari kota tersebut karena ada kewajiban lain. Cukuplah curhat ga pentingnya!!! :D
     Tempat wisata yang pertama saya kunjungi adalah Benteng Keraton Buton, tempat ini adalah objek wisata sekaligus juga bangunan bersejarah yang berada di atas bukit kota Bau-Bau, sehingga kita dapat melihat setiap kapal yang keluar masuk kota Bau-Bau yang melalui selat Buton.

Hebatnya lagi, pada tahun 2006, benteng ini tercatat dalam rekor MURI dan Guiness of Record sebagai benteng terluas di dunia, seluas 23.375 hektar. Konon ceritanya benteng ini dibangun menggunakan batu-batu gunung yang disusun rapi dengan menggunakan kapur, rumput laut, dan putih telur sebagai perekat. Kebayang gak sih seberapa banyak batu gunung, kapur, rumput laut, dan telur yang harus mereke kumpulkan untuk membangun benteng ini. Apalagi jaman dulu kan belum ada peternakan ayam petelur, jadi mereka harus nunggu sampai ayam kampung mereka bertelur. Berapa lama ya mereka harus menunggu dan berapa banyak ayam kampung yang mereka ternakkan? Hehehe… Belum lagi dengan upaya mengumpulkan bahan-bahan lainnya. Wow…salutlah dengan semangat juang para nenek moyang kita ini. Semoga semangat itu tetap kita warisi sebagai generasi muda, apalagi hari ini bertepatan dengan hari pahlawan.

 
     Ada 12 pintu yang terdapat pada benteng ini, 16 pos jaga dan meriam-meriam yang diletakkan pada setiap pintu dan sudut benteng. Beberapa situs budaya yang bisa kita temukan di sekitar keraton Buton, antara lain: Batu Popaua (Batu Pelantikan), Kasulana Tombi (Tiang Bendera) yang didirikan dari abad 17, Batu Wolio, Bendera Kerajaan Buton, Liana Latoundu atau Gua Arupalaka yang merupakan tempat persembuyian Arupalaka (Raja Bone), dan Makan Sultan Murhum.



     Di situs Makam Sultan Murhum ada ditawarkan jasa photographer yang bisa langsung ditunggu hasilnya (nunggu sekitar 10 menit) jika ingin berfoto rame-rame bersama keluarga/teman ataupun foto sendiri. Kami pun menggunakan jasa tersebut karena datang rame-rame dengan keluarga walaupun sebenarnya kami juga membawa kamera, tapi yah pingin coba aja. Biaya yang dikeluarkan 15 ribu untuk per lembar foto ukuran 10R. Namun suasana saat berfoto sedikit terganggu karena kami mencium aroma pesing yang asalnya ternyata dari sepupu kecil saya yang ngompol tanpa bilang ke mamanya. Mamanya pun terkena jebakan batman, saking semangatnya berfoto sambil memangku anaknya yang sudah habis ngompol, dia gak sadar kalo celana dia pun jadi ikutan basah. “Gapapalah yang penting saya sudah berfoto, kan celana basahnya gak keliatan” kata tante saya itu. Hmm…emang ya kalo udah roh kenarsisan yang menghampiri seseorang, yang lain itu nanti ajalah yang penting narsis dulu.
     Kalo cuma tahu dari cerita tentang Benteng Keraton Buton ini kayaknya kurang seru, kita akan terkagum-kagum kalo bisa melihat langsung bangunannya. Menurutku gak kalah indah dan eksotis dibanding benteng-benteng yang ada di luar negeri. Selain bisa melihat bangunan bersejarah dan situs budaya lainnya, kita juga bisa melihat indahnya kota Bau-Bau dan lautan sekitar kota Bau-Bau dari Benteng Keraton Buton ini.


Jumat, 08 November 2013

Pantai Nambo Bukan Lagi Milik Kita Bersama



     Sudah lebih dari 20 tahun saya menjadi penduduk provinsi Sulawesi Tenggara dan saya belum pernah menginjakkan satu kaki pun di pantai Nambo yang hampir seluruh penduduk Sultra mengetahui keberadaan pantai tersebut bahkan mungkin sudah begitu banyak yang pernah menikmati pasir dan air laut di pantai tersebut. Ada apa denganku hingga belum pernah menyentuh pantai itu? Itu cukup sayalah yang tahu. Hehehehe…
     Bulan September kemarin adalah bulan bersejarah bagiku. Akhirnya saya dapat merasakan pasir dan air laut di pantai Nambo. Perjalanan ke sana cukup dekat, cuma menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit. Karena masih berstatus anak kostan, kami cuma bisa menyewa mobil angkot untuk ke sana yang murah meriah. Biayanya 150 ribu (pergi-pulang) dari dalam kota Kendari hingga ke pantai dan balik kembali ke kota Kendari. Kata sopir angkotnya sih, sebelum harga BBM naik ongkos nyewa angkotnya tuh cuma 80 ribu (pergi-pulang).
     Seperti halnya pantai-pantai lain atau tempat liburan lainnya, tempat tersebut akan ramai pengunjung saat hari minggu atau hari-hari libur lainnya. Nah, kami pergi saat hari senin (waktunya orang pada sibuk kerja, sekolah atau aktifitas lainnya) dan saat menginjakkan kaki di tempat wisata tersebut tuh, cuma satu kalimat yang keluar dari mulutku: “Pantai Nambo bukan lagi milik kita bersama”. Dalam hatipun saya berkata: “Tuhan tuh baik banget ya, selama ini saya gak pernah datang ke pantai ini, tapi pas saya datang….pantai ini dikosongkan khusus untuk kunikmatin sepuasnya.” Oh ya, kami ke pantai itu cuma berenam, termasuk keponakan kecilku.






     Pasir di pantai ini berwarna putih tapi gak putih bersih banget gitu. Bahkan ada area sekitar dua meter lebarnya di area pemandian yang keliatan kotor karena masih ada sisa-sisa pembakaran batang pohon bakau yang tidak dibersihkan hingga akar-akarnya.





     Karena kami datang bukan hari libur, kamar mandi dan WC pada tutup, termasuk tempat makan pun. Aigoo…untungnya ada rumah warga yang menjual snack-snack dan mie siram. Kami pun makan mie siram di situ daripada perut kami berlomba berkeroncongan satu per satu. Sekaligus jugalah kami numpang mandi dan ganti baju :D

     Overall, pantai ini cukup baguslah pengelolaannya. Gazebo ada banyak berjejer di sepanjang tepi pantai, kamar mandi/ganti dan WC juga ada, bahkan tempat makan pun tersedia. Tapi pemandangan alamnya masih kurang mantap menurutku. Gapapalah…yang penting saya sudah menikmati pantai Nambo sepuasnya. Menikmati pantai yang serasa milik pribadi. Menikmati indahnya alam yang diciptakan oleh Tuhan.