Kebiasaan curi-curi pandang sudah sering kulakukan sejak di tingkat 2 SMA. Ada seorang murid pindahan baru yang bibirnya tuh menurutku sangat seksi, 11-13 lah dengan bibir seksinya si tante Jolie. Karena masih murid pindahan baru ditambah lagi dengan sifatnya yang agak pemalu, dia milih untuk duduk di bangku paling belakang di bagian pojok pula, sedangkan gw tuh duduknya di bangku paling depan. Dari segi tempat duduk aja kami tuh dah jauh berbeda, terus gimana donk dengan percintaannya??? Let's pray we're fine2 aja. Amin....
"Nin..ke kantin gak lu?". Selang beberapa detik karena Mira gak mendapat respon dari Nina yang merupakan teman sebangkunya itu, Mira pun kembali bertanya tapi dengan lebih macho alias dengan suara yang lebih keras dan menjewer pelan telinga Nina. "Woi Nin..dengar gak sih lu, ke kantin gak? Gw duluan nih kalo lu gak keluar." Dengan tersentak Nina pun menjawab: "Ah iya.., gw ikut T. K" (T. K dibaca: Ti, Kei). Dalam perjalanan menuju ke kantin sekolah, Mira yang dari tadi penasaran akhirnya bertanya: "Kau khayalin apa sih tadi sampe gak dengar gw bertanya?" "Hehe...ntar deh gw jelasin sambil kita makan biar lebih seru".
Sudah mau setengah piring habis gado-gado yang dimakan mereka, tapi Nina belum juga menceritakan apa yang dikhayalkannya tadi. Mira yang sudah mencoba sabar dari tadi akhirnya membuka juga mulutnya. "Ei Nin...ayo donk ceritain yang kau bilang tadi, bikin orang penasaran aja".
"Dasar lu emang pantaslah dijulukin T. K" jawab Nina. Sekedar info kalo julukan T. K itu sebenarnya singkatan dari Talky dan Kepo. Itu julukan baru sekaligus nama panggilan sayang Nina buat Mira karena sahabat karib dari kecilnya itu memang seorang yang rada cerewet dan kepo.
"Gini nih ceritanya T, tapi lu harus janji dulu, tidak ketawa baru gw mau cerita".
"Iya deh, gw setengah janji. Hahaha...masalahnya lu tau kan gw gak bisa nahan ketawa kalo emang lucu Nin". Balas Mira sambil ketawa.
"Nin..ke kantin gak lu?". Selang beberapa detik karena Mira gak mendapat respon dari Nina yang merupakan teman sebangkunya itu, Mira pun kembali bertanya tapi dengan lebih macho alias dengan suara yang lebih keras dan menjewer pelan telinga Nina. "Woi Nin..dengar gak sih lu, ke kantin gak? Gw duluan nih kalo lu gak keluar." Dengan tersentak Nina pun menjawab: "Ah iya.., gw ikut T. K" (T. K dibaca: Ti, Kei). Dalam perjalanan menuju ke kantin sekolah, Mira yang dari tadi penasaran akhirnya bertanya: "Kau khayalin apa sih tadi sampe gak dengar gw bertanya?" "Hehe...ntar deh gw jelasin sambil kita makan biar lebih seru".
Sudah mau setengah piring habis gado-gado yang dimakan mereka, tapi Nina belum juga menceritakan apa yang dikhayalkannya tadi. Mira yang sudah mencoba sabar dari tadi akhirnya membuka juga mulutnya. "Ei Nin...ayo donk ceritain yang kau bilang tadi, bikin orang penasaran aja".
"Dasar lu emang pantaslah dijulukin T. K" jawab Nina. Sekedar info kalo julukan T. K itu sebenarnya singkatan dari Talky dan Kepo. Itu julukan baru sekaligus nama panggilan sayang Nina buat Mira karena sahabat karib dari kecilnya itu memang seorang yang rada cerewet dan kepo.
"Gini nih ceritanya T, tapi lu harus janji dulu, tidak ketawa baru gw mau cerita".
"Iya deh, gw setengah janji. Hahaha...masalahnya lu tau kan gw gak bisa nahan ketawa kalo emang lucu Nin". Balas Mira sambil ketawa.
Nina yang sudah mengenal sifat temannya itu, akhirnya
nyerah jg. "Terserah lu deh, tapi jng diejek pokoknya.Gw tuh kok merasa
semacam ada ikatan batin gitu antara gw dengan Amran. Saat pertama melihat dia,
gw kayaknya langsung jatuh cinta T, semacam ada aliran listrik yang mengalir
dalam darahku. Saat melihat..."
Belum sempat Nina meneruskan cerita, Mira yang
dari tadi masih bingung langsung memotong ceritanya. "Bentar...bentar..
Nin, Amran mana nih yang lu maksud? Amran adik kelas kita atau Amran murid
pindahan baru itu?"
“Ya ela T…kalo gw emang punya rasa ama si Amran
adik kelas kita itu, udah dari dulu mah gw pasti coba PDKT ke dia. Ini Amran
murid pindahan baru yang kumaksud!!”.
Jawab Nina dekat sedikit kesal.
“Oooo…trus? trus…?” Rasa penasaran Mira tetap
berlanjut sambil senyum-senyum tipis.
“Gw suka lihat bibir dan mata dia T, mata dia tuh
tajam kalo melihat orang, kayak misterius gitu deh. Nah kalo bibir dia, kau
pasti setuju dengan aku kalo bibirnya itu sangat seksi. Ya kan?” Lanjut Nina.
Mira
jadi bingung mau nanggapin gimana cerita temannya itu. Dia pun memilih untuk
menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Sambil makan, dia terus berpikir, “Kok bisa ya Nina langsung berpikir kalo dia
dan Amran punya ikatan batin hanya karena Nina menyukai mata dan bibir Amran
yang katanya seksi itu?Walah gw jadi bingung gimana nanggapinnya…”. Gado-gado
dah habis sepiring, Mira belum juga menemukan kalimat yang tepat. Dia pun
lanjut lagi dengan meneguk segelas es teh manis. Nina pun menjadi bingung, ada
apa dengan temannya itu? Gak biasanya dia diam gitu, biasanya Mira akan cepat memberi
tanggapan apabila Nina bercerita/curhat. “Apa
ada yang salah ya dengan omonganku? Apa Mira juga suka dengan Amran?”.
Nina yang bingung dengan sikap temannya itu
akhirnya angkat bicara duluan. “T…, lu kok diam aja? Tumben…biasanya dirimu tuh
langsung nyerocos ini itu kalo gw curhat. Lu kok jadi aneh gitu?”
Mira yang dari tadi bingung mau ngomong apa,
terpaksa harus ngomong juga. “Gw dari tadi itu sebenarnya bingung Nin, apa
hubungannya ikatan batin dengan mata n bibir yang seksi? Makanya gw juga
bingung mau nanggapin apa! Gw nangkapnya ya, kalo lu itu jatuh cinta pada Amran
pada pandangan pertama. Ya gitu doank menurutku, gak ada hubungannya dengan
ikatan batin dan mata n bibir seksi itu. Gak perlu lu dramatisirlah pake ikatan
batin segala. Bilang aja lu suka. Ckckck…”
“Kayaknya sih emang gitu T, gw merasa jatuh cinta
pada pandangan pertama. Hehehe..” Balas Nina sambil cengengesan.
Karena waktu istrahat dah hampir habis, Mira pun
bicara langsung pada intinya tanpa banyak basi-basi lagi. “Ya udah, kalo lu emang merasa begitu, coba
aja dekati dia pelan-pelan kebetulan dia masih murid baru jadi dia pasti belum
punya banyak kenalan. Nanti kita liat ke depan gimana perkembangan cintamu
padanya. Hahaha….Yo weslah, masuk yuk, dah mau habis nih jam istrahat!”.
(to be continued alias bersambung)
Nina
menjadi tidak konsentrasi mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga jam
pulang sekolah karena dia sambil memikirkan bagaimana cara memulai berkenalan
dengan Amran, kata-kata apa yang harus dia bilang, apa yang harus yang dia
lakukan setelah mereka sudah berkenalan, dan banyak hal lainnya. Setelah di
rumah pun pikiran itu kadang masih terus menghantuinya. Dia pun meniatkan kalo
besok dia sudah harus memulai berkenalan dengan Amran dan menjalankan misi-misi
dia berikutnya.
Nina
datang lebih cepat ke sekolah dari hari-hari biasanya berharap dia datang lebih
cepat daripada Amran sehingga dia bisa mempersiapkan mental untuk menyapa Amran
duluan. Dan itu sesuai dengan harapannya. Saat Amran nyampe ke kelas, dengan degup
jantung yang sangat kencang, dia memberanikan diri memulai percakapan.
“Hai..namamu Arman kan ya?” Sapa Nina
Dengan senyum tipis Amran membalas Nina “Amran,
bukan Arman”.
“Ooo…sorry sorry ya, gw kirain Arman, mirip-mirip
sih namanya jadi lidahku agak kepeleset dikit hehehe…. Sorry ya!”. Balas Nina
yang sebenarnya dia memang dengan sengaja salah sebut nama Amran biar
pembicaraan awal mereka lebih hidup. “Oh iya, saya Nina.” Lanjut Nina sambil
mengulurkan tangan untuk bersalaman yang disambut juga oleh Amran. “Amran dari
Makassar kan ya? Kalo di sini tinggal di daerah mana?”.
Amran yang dari tadi diserang pertanyaan akhirnya
pun kesempatan untuk menjawab: “Iya, saya dari Makassar. Kebetulan orang tua
saya pindah tugas di sini jadi saya juga ikut-ikutan pindah. Saya tinggal di
kompleks pasar”. Teman-teman kelas lainnya pada berdatangan juga termasuk Mira,
Andre, dan Wawan yang merupakan teman-teman dekat Nina. Mereka kebetulan datang
bersamaan. Dan saat melihat Nina ngobrol dengan Amran, mereka pun saling
melirik satu sama lain dan seakan suara hati mereka saling bersahut-sahutan. “Lihat tuh Nina, tumben dia datang lebih
cepat dari kita. Dia kenal ya sama Amran? Kok bisa mereka ngobrol seakan sudah
dekat gitu?” Mira yang sudah tahu permasalahan cuma bisa pura-pura
ikut-ikutan bingung sambil menggangkat pundak dan kepala menggeleng
mengisyarakatkan kalo dia gak tahu apa-apa.
(to be continued alias bersambung)